Halo, Teman Jalan. Kalian pernah nggak nginap di hotel, sewa rumah, atau tinggal di apartemen berhantu? Selama ini saya hanya membaca .kisah apartemen berhantu atau nginap di hotel horor yang ditulis oleh para novelis Indonesia. Nggak pernah mengalami langsung sampai menginap semalam di apartemen berhantu di Bukit Bintang.
Jadi,
semuanya berawal dari sebuah perjalanan panjang dari Terengganu ke Kuala Lumpur
dan kami menyadari butuh tempat dengan harga terjangkau. Jika dipikir-pikir,
nggak terjangkau juga kok. Harganya lumayan menguras kantong dengan pengalaman
yang horor.
![]() |
| Bukit Bintang [Photo: Pexels/Kokhuah25] |
Pencarian Satu Hari
Saat
kami resmi mendapatkan jadwal wawancara untuk visa, tentu kami langsung
berpikiran baik. Kami bisa langsung pulang ke Aceh dengan tenang. Tentu saja,
perjalanan mendadak juga nggak mungkin mendapatkan harga yang sesuai. Dalam
waktu sesingkat-singkatnya, kami mencari apartemen di Kuala Lumpur untuk
istirahat semalam. Oh, iya, tidak ada penerbangan langsung dari Terengganu ke
Aceh.
Saya
menyerahkan semua pencarian kepada teman-teman. Apalagi homestay di
Terengganu juga sudah harus check out pada pukul tiga sore. Maka tidak ada
lagi alasan kami untuk bertahan lebih lama di Terengganu. Event balap yang
berlangsung pada awal Agustus menyebabkan tarif kamar semalam bisa mencapai
hingga Rp 320 juta, lho.
Namanya
juga tim, sembilan orang memiliki sembilan tujuan. Ada yang cuma pengen foto
di KLCC. Ada yang punya target belanja, open jastip, sampai benar-benar
ingin tidur saja di hotel. Untuk jumlah orang dalam satu grup melebihi lima
orang, kami memutuskan menyewa apartemen di pusat kota. Selain dekat dengan
pusat perbelanjaan juga dekat dengan tujuan masing-masing.
Setelah
mendapatkan beberapa calon apartemen, kami memutuskan untuk menyewa satu
apartemen dengan harga satu jutaan di daerah Bukit Bintang. Dekat dengan
Pavilion dan tinggal jalan kaki ke Sungei Wang, pusat belanja dengan harga yang
lebih miring dibandingkan area Bukit Bintang lainnya. Menurut saya, lokasi ini
cocok banget untuk yang suka backpacker ke Malaysia dengan teman-teman.
Pencarian
satu hari kami berakhir dengan booking untuk satu malam. Lokasi
strategis dan semua rencana anggota tim dapat terkoordinir dengan baik. Siapa
yang tahu dan menduga kalau kami akan berakhir di apartemen berhantu Bukit
Bintang. Ah, bagian ini mungkin paling seru.
Kode dari Pencarian Taksi
Seperti jadwal hotel atau homestay pada umumnya, kami juga harus check in pada pukul tiga sore. Sementara bus kami masuk ke Terminal Bersepadu Selatan (BTS) pada pukul 5.30 AM. Pada waktu tersebut, kami menghabiskan waktu hingga pukul sembilan pagi di TBS untuk berbagai aktivitas. Mulai dari shalat Subuh, bebersih, ganti baju, sarapan, dan mencari taksi untuk ke apartemen.
Saya
pikir masalah yang paling berat itu bukan soal waktu, tapi perkara mencari
taksi untuk menuju ke penginapan. In this economy, rupiah sangat terasa
sekaratnya di luar negeri. Di Malaysia saja, kami harus tahan napas untuk tiap
jumlah ringgit yang dikeluarkan. Maka saat bepergian sharing taksi
haruslah menjadi pilihan.
![]() |
| Ilustrasi taksi [Photo: Pexels/lorenzomessinaph] |
Kami
sepakat untuk drop off barang bawaan di apartemen dan melanjutkan
perjalanan ke Genting. Saya termasuk orang yang ingin menjelajahi Malaysia
meski keuangan tidak baik-baik saja. Perjalanan ala backpacker kere saya
rasa masih berlaku di kondisi saat ini.
Saya
dan tiga orang teman mencari taksi di TBS. Selama satu jam pencarian tidak ada
taksi yang mau mengangkut kami. Setelah menerima orderan, mereka juga
membatalkan begitu melihat jumlah orang dan barang bawaan kami. Ya, sangat
tidak masuk akal untuk mengangkut empat orang penumpang dengan bawaan
masing-masing tiga bagasi.
Sampai
akhirnya ada satu taksi besar yang mau berhenti di dekat kami. Itu pun karena
dia melihat ada yang membawa bayi di antara kami. Meski sambil mengomel, dia
juga membawa masuk semua barang ke mobil. Sepanjang perjalanan kami terus
dinasihati dengan bahasa yang sangat baik tentang keamanan, kenyamanan, dan
aturan yang berlaku di Malaysia.
Bisa
saya simpulkan, si driver berdarah Yaman ini menerima kami di taksinya karena
dua istrinya berasal dari Indonesia. Jadi, dia merasa seperti menolong keluarga
istrinya yang berasal dari Tanjung Balai, Sumatera Utara.
Kejanggalan
di apartemen rasanya sudah diberi kode sejak mulai pencarian taksi. Selama di
taksi juga si driver sudah terus mengingatkan kalau Bukit Bintang banyak
didatangi oleh orang-orang untuk mencari kebebasan dan kenikmatan duniawi.
Namun saya menangkap sesuatu yang tersirat dan jauh di luar pikiran banyak
orang.
Luggage
Storage dan Rupiah yang Tak Ada Harga Diri
Tiba
di apartemen kami langsung naik ke atas, ke lantai lima yang menjadi awal dari
semua cerita kami akan dimulai. Ternyata di bagian resepsionis tidak mau
menerima penitipan gratis. Kami harus membayar untuk menitip barang. Satu tas
dihargai senilai RM 15 atau Rp 45 ribu dengan kurs saat itu.
Kami
tidak punya pilihan lain sebab akan melanjutkan trip ke Genting. Tas
kecil-kecil didesak masuk ke dalam tas lebih besar. Tujuannya agar menghemat
pembayaran untuk luggage storage. Jadinya kami hanya membayar RM 30 saja
untuk dua barang bawaan perorang. Itu pun terasa sekali mahalnya. Jika
dirupiahkan setara dengan Rp 150 ribu. Harga yang cukup mahal untuk rupiah yang
tak ada harga diri.
Jadwal
check in baru dimulai dari pukul tiga. Jadi, setelah menyimpan tas di
lobil apartemen, kami langsung menuju ke taksi yang sudah kami booking untuk
menuju ke Genting. By the way, ini taksi yang sama dengan taksi yang
menjemput kami ke TBS.
Di Luar Ekspektasi
Kami
turun dari Genting pada pukul 16.30 PM. Terjebak rush hour Kuala Lumpur
yang nggak lebih mengerikan daripada Jakarta. Singgah di KLCC untuk menikmati
atraksi air mancur menari pada pukul 19.30 PM dan langsung pulang ke apartemen
di Bukit Bintang.
Hujan
turun cukup deras, taksi sudah didapatkan, dan tentu saja tarifnya cukup mahal.
Saya dan lima orang teman menumpang taksi berdesakan menuju ke apartemen.
![]() |
| Air mancur di depan KLCC [Photo: Pexels/Joerg Harmann] |
Barang
kami cukup banyak untuk diangkut bersamaan ke lantai sembilan belas. Tiba-tiba
saja saya enggan naik ke atas dulua dan memutuskan untuk menunggu di bawah
dulu. Saya menunggu cukup lama, sekitar setengah jam di bawah. Saat naik ke
atas pun aura tak menyenangkan terasa sekali.
Begitu
masuk ke apartemen, saya menangkap sesuatu yang tidak nyaman. Furnitur di
ruangan terlalu tua. Dinding-dinding sepertinya tidak terawat. Bahkan beberapa
fasilitas tidak berfungsi dengan baik. Penampakan nyata dan promosi di
Traveloka benar-benar tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal rating di
Traveloka lumayan bagus, lho.
Satu
hal yang tak membuat saya nyaman begitu masuk ke ruangan adalah aroma pertama
dan kesan suram di ruangan. Ada satu aroma yang masuk ke indera penciuman saya.
Baunya aneh. Antara bau pengap dan amis. Ditambah lagi hawa tak nyaman saat
masuk ke ruangan dan disambut cermin besar di depan pintu. Saya bahkan tak nyaman
melihat pantulan di cermin.
Apartemen
yang kami tempat benar-benar di luar ekspektasi kami semua. Kami juga membahas
ini saat duduk manis sambil makan buah malam itu. Kok bisa ratingnya bagus
banget?
Siapa di Depan Pintu?
Saat
sedang lesehan makan buah, tak sengaja saya menoleh ke pintu yang tertutup
sendiri. Saat itu pula saya melihat seorang perempuan berlumuran darah dengan
kepala rusak seperti melintas ke lorong. Saya agak kaget, tapi pura-pura tak
melihat apapun. Saya mengabaikan apa yang saya lihat dan tetap diam.
Perut
saya mendadak lapar. Nggak ada seorang pun teman yang mau menemani turun ke
bawah untuk membeli makanan. Akhirnya saya menitipkan makanan pada seorang
teman yang masih di luar dan menjelajah Sungei Wang Plaza sendirian.
Di
saat yang sama seorang teman keluar dari kamar sambil berkata, “ada kecium
bau-bau aneh nggak? Kok nggak enak sekali baunya, ya.”
Saya
diam, tapi yang lain berkomentar tidak ada atau tidak perhatian. Sampai
akhirnya saya kebelet pipis dan masuk ke kamar. Kamar mandi hanya tersedia di
kamar, tidak ada kamar mandi umum di dapur atau ruang tamu.
Aneh,
pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Saya terus mengetuk, tapi tidak ada yang
menjawab. Di dalam kamar mandi terdengar ada aktivitas. Saya kembali ke ruang
tamu tempat semua berkumpul. Semua teman-teman ada di sana.
Kamar Gelap
“Siapa
yang di kamar mandi?” tanya saya begitu keluar dari kamar, tetapi terkejut saat
sadar semua di luar. Sebelum mereka sadar saya meralat pertanyaan, “apa ada
yang ke kamar mandi lupa membuka pintu kamar mandi sebelah?”
Satu
kamar mandi untuk dua kamar. Saat masuk ke kamar mandi, kita harus mengunci
pintu yang terhubung dengan kamar mandi satunya dulu agar tidak ada yang
tiba-tiba masuk.
“Kayaknya
kakak lupa buka pintu kamar mandi,” kata salah satu teman yang mandi terakhir.
Dia sedang bercerita petualangannya berburu barang jastip di Sungei Wang.
Desakan
dari kantung kemih mengempas rasa takut hilang. Saya memutuskan masuk ke kamar
mandi melalui kamar tengah. Saat melewati lorong kamar, saya merasa hawa dingin
yang sangat menusuk. Di belakang seperti ada yang mengikuti. Saat berpaling
justru tidak ada siapapun di belakang saya. Tentu saja, mereka sedang
membongkar paper bag dan mengagumi hasil buruan dari mall ke mall.
![]() |
| Ilustrasi kamar mandi di apartemen [Photo: Pexels/the ghazi] |
Saya
memasuki kamar tengah yang pengap. Sebelum memasuki kamar mandi, ekor mata
kanan saya menangkap bayangan hitam berambut panjang yang sedang duduk di tepi
ranjang. Dia menghadap jendela lebar dengan pemandangan gedung tinggi di luar
sana. Saya abaikan dan memutuskan untuk segera menyelesaikan hasrat ingin pipis
yang mendesak.
Untungnya
saya tidak menghabiskan banyak waktu di kamar mandiri. Meski begitu saya merasa
aneh dengan kamar mandi yang terkesan jorok dan berantakan. Padahal hanya
serpihan tisu dan air di lantai saja. Perasaan saya seperti kotor dan banyak
barang berhamburan di lantai.
Saya
merasa horor dengan kamar tengah yang agak gelap, jadi saya putuskan untuk
keluar lewat kamar depan. Saya tidur di kamar ini. Kamar gelap, tapi saya
menangkap sebuah ornamen panjang seperti pintu. Saat menyentuhnya, dan menarik
bagian yang agak berlubang. Ternyata lemari pakaian kosong.
Saat
membuka lemari, suasana kamar agak gelap dan ruangan hening. Suara teman-teman
yang bercengkerama di luar tidak lagi kedengaran. Bergegas saya keluar dan
bergabung dengan yang lain di ruang tamu. Kami baru masuk kemar kembali pada
pukul satu malam.
Jeritan Dua Bayi
Kami
check out pukul dua belas siang. Saat bangun pagi, saya merasakan badan
yang tak nyaman. Kepala berat dan hidung meler. Bahkan ada gejala demam yang
membuat tubuh rasanya rebahan saja. Setelah mandi dan berganti pakaian, saya
kembali bergelung di bawah selimut.
Pukul
setengah sepuluh pagi saya keluar kamar dan beberapa teman untuk berkeliling di sekitar Pavilion Hotel. Berfoto di air mancur depan Dior atau masuk ke Charles and Keith.
Saya masih penasaran dengan produk yang sepuluh tahun saya incar meski sudah
pasti tidak ada lagi. Untung saja tidak ada. In this economy, beli barang branded
untuk personal statement cuma membuat masalah baru kan, ya?
Kami
keluar pukul sepuluh dan kembali pukul sebelas. Tiba di apartemen, kami
menyusun strategi untuk membawa barang turun ke bawah. Kami sudah menyewa van
untuk mengantar ke bandara seharga RM 270 atau Rp 1.215.000 untuk penumpang
sejumlah delapan orang dengan tambahan dua bayi. Masing-masing membawa satu
koper, satu travel bag tentengan, dan satu ransel ditambah dengan dua
stoler.
Empat
orang teman sedang berada di luar, mereka memutuskan berbelanja sebelum pulang.
Jumlah yang tinggal di apartemen sangat minim, jadi kami putuskan untuk
bergantian menurunkan barang-barang di apartemen ke lobi. Dua ibu bayi turun
duluan untuk mengantarkan barangnya. Anaknya ditinggal bersama kami.
Tiba-tiba
saja kedua bayi itu menangis disertai jeritan. Seolah ada yang memukul atau
mencubit. Mereka menangis bersamaan dan menjerit sekuat tenaga. Awalnya kami
mengira karena kedua bayi ini sadar kalau ibunya tidak di sekitar. Namun
setelah digendong dan ditenangkan pun mereka masih menjerit sampai lidahnya
menegang.
Saya
memeluk dan mengelus punggung salah satu bayi. Dia semakin meronta-ronta dan
menutup matanya. Saat itu saya tak sengaja melihat ke arah cermin di depan
pintu. Di lorong itu, saya merasakan ada sesuatu yang bergerak tetapi tak
terlihat. Bulu kuduk kami merinding.
Saya
membaca ayat qursy ke telinga si bayi. Pada bacaan kedua dia terdiam. Tepat saat
itu ibunya datang dan menyusuinya. Pintu yang tadinya terbuka bergerak perlahan
dan menutup sendiri. Semua tahu pintu itu tertutup, tapi tak ada yang
berkomentar.
Mimpi Si Kakak
Saat
perjalanan ke bandara, si kakak yang doyan belanja bercerita semalam dia tidur
tak nyenyak. Dia bilang saat menutup mata dia langsung mendapat mimpi hantu.
![]() |
| Ilustrasi hantu [Photo: Pexels/Vintage Lenses] |
“Ada
hantu orang bunuh diri seperti datang mau mencekikku,” katanya. Saya terkejut. Lantas
dia bercerita tentang bagaimana si perempuan yang tak jelas bentuk wajahnya
datang dan mengganggu tidurnya. Kemudian dia menyimpulkan terlalu lelah dan
semangat berkelana di pusat perbelanja sampai mimpi buruk menghampirinya.
Kami
bercerita pengalaman masing-masing tentang kesan memasuki apartemen itu. Hawa
pengap dan aroma tak sedap. Bayangan tak terlihat berjalan di lorong. Ada aktivitas
di dapur sementara apartemen kosong. Pintu dan jendela yang terbuka sendiri. Semuanya
punya cerita masing-masing yang disimpan sendiri.
Sebuah Kesimpulan
Setelah
mendengar semua cerita teman-teman di perjalanan menuju bandara, saya ketiduran.
Mata saya terpejam, tapi jiwa saya seolah berkelana. Saya seperti kembali ke
apartemen itu dan melihat kembali sosok perempuan dengan muka rusak itu.
Dimulai dengan membuka pintu apartemen, melihat perabotan kusam dan tua. Sampai di mata saya melihat si perempuan diseret sepanjang lorong ke kamar tengah dan tubuh berlumuran darah. Tepat saat dia sedang disiksa, saya terkejut dan terbangun dari tidur.
Saya menarik sebuah kesimpulan tak berdasar, apartemen berhantu di Bukit Bintang itu menyimpan sebuah rahasia. Ada kekerasan berakhir tragis dari sepasang kekasih yang entah kapan kejadiannya.






15 Komentar
Ih, serem banget baca ceritanya. Berasa baca novel horor, tapi kali ini bener-bener real, ya. Jadi ingat dulu pernah nginap di hotel yang rada serem juga. Mungkin karena sudah engga banyak pengunjung yang menginap di hotel itu kali, ya.
BalasHapusBisa jadi, Kak. Tapi untuk case kali ini aku malah dapat cerita lain dari teman yang tinggal lama di Malaysia. Ntar deh aku tulis ceritanya.
HapusSerem banget bacanya kak, untung saja hanya menginap semalam, saya juga pernah dapat pengalaman buruk, jadi sepanjang saya menginap di hotel tersebut, saya baca ayat kursi banyak-banyak deh dan berusaha segera terlelap saja
BalasHapusIya, Mbak. Saya juga gitu. Malah saya bermimpi kayak nonton film horor. Paginya demam.
HapusBisa banget diadaptasi buat ide cerita/novel berikutnya tuh kak. Ga kebayang gimana disanaa, untungnya ga sendiri banget ya jd beberapa waktu ke depan bisa dijadikan bahan obrolan gimana suasana disana
BalasHapusBisa banget, Kak. Langsung minta Chat GPT buat diilustrasikan covernya, nih. Hahaha
HapusDefinisi perjalanan liburan yang penuh plot twist! Buka cerita buat nyari referensi backpacking, pas penutup malah dibuat merinding sama rahasia kelam apartemen di Bukit Bintang.
BalasHapusAda lanjutannya, Kak. Baca, ya. Hahahhaa
HapusSerem-serem sedap ceritanya Kak Ulfah. Ternyata di Malaysia juga ada perhantu-hantuan. Tapi alhamdulillah bisa pulang ke Aceh dengan selamat, ya, tanpa gangguan yang lebih fatal lagi.
BalasHapusKalau benar dulunya ada kejadian tragis di kamar apartment itu, mudah-mudahan kasusnya sudah closed terselesaikan dan tak lagi gangguan kepada penghuni selanjutnya yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian sebelumnya
Nah, justru katanya dia jadi urban legend di sana. Banyak yang pengen ketemu sama hantunya. Hahaha
HapusKakak sungguh pemberani. Jadi, kalau lihat yang aneh-aneh, sebaiknya kita pura-pura nggak liat, cuek saja gitu, ya? Jangan bereaksi berlebihan. Namun, kalau takut, susah juga, ya. :')
BalasHapusKalau udah biasa ketemu udah biasa aja ngontrol diri, Kak. Kalau sesekali atau tetiba ya panikan juga. Hahaha
HapusMbak Ulfaa,,,ini kisah nyata yaa,,,ya Allah saya sereem banget membacanya,,,jadi membayangkan suasana di apartemen itu,,,hantu gak sopan banget yaa menampakkan diri ke mbak Ulfa dkk
BalasHapusIya, Mbak kisah nyata. Hantunya itu caper banget, Mbak. Kurang perhatian.
HapusAku bacanya di siang hari aja vibesnya serem banget ini. Untung nggak baca malam hari mbak. Bisa dong ini diangkat jadi cerita horor mbak. Kutungguin deh seri cerpen atau novel horor nya.
BalasHapus