Halo, Teman Jalan.
Sudah
baca cerita perjalanan saya sebelumnya di Kuala Lumpur tentang apartemen berhantu? Nah, kali ini saya mau berbagi cerita hasil dari respon para
pembaca yang bersinggungan langsung dengan kisah itu.
Sebagai
pemberitahuan awal, artikel ini mungkin akan membuat bulu kudukmu merinding.
Kalau nggak kuat dengan cerita begituan, boleh banget untuk tidak melanjutkan
membaca. Kalau Teman Jalan nekat menyelesaikan baca sampai habis, seluruh efek
samping di luar tanggung jawab saya, ya.
Berawal dari Demam
Sebelumnya
saya ceritakan, kenapa kami memilih apartemen di kawasan Pavilion itu? Yap!
Karena harganya murah banget dan fasilitasnya oke menurut review orang-orang.
Etapi setelah masuk malah kecewa berat. Semua fasilitas yang disebut dan difoto
itu nggak tersedia. Malahan bangunannya terkesan tua, kusam, dan kumuh banget.
Mana aromanya pengap lagi.
![]() |
| Kawasan Bukit Bintang sebagai kawasan elit dan glamor [Photo: Pexels] |
Setiap
orang juga punya pengalaman nggak enak di apartemen itu. Ada yang mendengar
suara berisik seperti pintu dibuka tutup. Kesibukan di dapur seperti ada yang
beberes. Ada juga bisik-bisik.
Ada
yang mencium aroma aneh dan pengap sekaligus. Saya sendiri lebih kepada melihat
bayangan dan seperti diajak bermain untuk melintasi kehidupan kelam di masa
lalu. Ah, sudahlah. Karena itu pula saya jadi demam esok paginya.
Berawal
dari demam ini pula saya jadi nggak karuan. Seperti dipaksa menonton kepingan
kisah episode per episode dalam mimpi. Saya seperti dibawa kembali ke apartemen
di Bukit Bintang itu. Mungkin saya terlalu berhalusinasi karena demam, ya.
Celetukan di Grup
Nah,
kami punya satu grup dengan anggota 25 orang. Isinya rekan-rekan yang
melanjutkan pendidikan doktoral di kampus Universiti Sultan Zainal Abidin(UNISZA). Di sini kita berbagi informasi seputaran kuliah dan seru-seruan ngebahas
apa saja. Kebetulan hari itu saya melempar satu kalimat tentang kemalasan saya
harus kembali ke dunia kerja di kampus.
Ada
teman perempuan yang nyeletuk, “hati masih jalan-jalan di Mayang Mall ya, Kak.”
Mayang Mall adalah salah satu dari beberapa pusat perbelanjaan di Kuala
Terengganu, Malaysia Timur. Bagi kami itu satu-satunya mall dengan tawaran
paling mewah untuk para wanita pecinta estetika dan shopping.
Lantas
saya membalas, “masih di Bukit Bintang, tapi bukan di apartemennya.” Saya tidak
bermaksud melempar umpan, ternyata ada yang terpancing. Dia justru membalas
dengan komentar apartemen berhantu, ya.
Aduh,
tentu saja jempol saya langsung reaktif untuk membalas. Maka balasan demi
balasan bermunculan di grup bercerita pengalaman masing-masing selama di
apartemen. Sampai alumni Universiti Malaya yang punya banyak cerita tentang
sisi kelam Kuala Lumpur angkat bicara.
![]() |
| KLCC Suria [Photo: Pexels] |
Gadis Iran Terlantar
Puncak
cerita kami saat salah seorang anggota grup yang pernah tinggal di Kuala lumpur
selama pendidikan S2 berkomentar, “apa bertemu dengan awak (orang)
Iran, ya? Hantu Iran itu suka berkeliaran di Bukit Bintang.”
Nah,
muncul pula rasa kepo saya di atas rata-rata. Jiwa jurnalis saya meronta-ronta
ingin tahu kisah si Gadis Iran itu. Entah kenapa pula, saya langsung terbayang
wajah teman Iran saya yang suka menjelajahi dunia termasuk dunia malam seperti
di Bukit Bintang.
Jadi
ceritanya begini, ini juga berdasarkan cerita si teman dalam grup. Dulu ada
satu gadis Iran yang terlantar di Bukit Bintang. Maksud dari kata terlantar ini
saya artikan dia homeless dan tidak mendapatkan kehidupan yang layak
lagi. Bisa jadi karena visa tinggal habis, tempat tinggal tidak ada, dan uang
juga tidak ada. Untuk bertahan hidup dia pindah dari lorong ke lorong dengan
belas kasihan para pengunjung kehidupan malam di Bukit Bintang.
Dia
selalu mencari perhatian pengunjung Bukit Bintang agar dikasihani. Apakah
diajak untuk kencan semalam atau urusan duniawi lainnya. Bagi orang yang paham, Bukit Bintang bukan sekadar pusat belanja kelas atas, ya. Ada sisi gelap dan
gemerlap yang orang-orang polos seperti saya tidak paham jika tak diceritakan.
Apalagi saya nggak kepikiran juga untuk cari tahu undercover Bukit
Bintang ini sebelumnya.
Sepertinya
si gadis ini hidup terlalu jauh dan kelam di Bukit Bintang. Demi memuaskan diri
dan bertahan hidup, dia masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan malam. Dia
meninggal karena kehidupan malam juga. Seramnya, sampai meninggal dan tinggal
nama pun si gadis Iran ini masih mencari perhatian.
Dia
suka menampakkan diri di gang-gang Bukit Bintang, di apartemen-apartemen tak
terurus. Bahkan suka menggoda siapa saja yang ‘beruntung’. Seperti gadis Iran
pada umumnya, dia pasti sangat cantik.
Bertemu = Beruntung?
Si
teman yang bercerita tentang perempuan Iran itu lantas menutup ceritanya dengan
satu kalimat, “Kalian beruntung didatangi oleh dia. Banyak orang yang datang ke
Bukit Bintang untuk bertemu dengannya, tapi jarang yang beruntung.”
Hah?
Kalau ketemu hantu bagian dari keberuntungan, mending nggak usah beruntung
sekalian. Bertemu hantu kok beruntung, sih?
Malamnya
saya mulai browsing tentang si gadis Iran itu. Tidak ada yang menceritakan soal
ini di blog atau catatan perjalanan orang lain ke Bukit Bintang.
Banyak
juga konten para pelancong yang clickbait dengan memberi pancingan kisah
horor atau menggunakan kata haunted di konten mereka. Akan tetapi, ujung
dari konten ini lebih banyak bercerita tentang masuk ke apartemen terlantar tak
terurus, pengap, tua, dan furnitur lama. Persis seperti apartemen kami.
Untuk
hal lainnya seperti kemunculan hantu tiba-tiba memang ada. Tidak ada yang
spesifik menunjukkan kamar berapa dan lantai berapa. Palingan mereka berkisah
tentang ketemu hantu di salah satu lantai, kamar, lift, atau di lorong. Ya,
mungkin sama seperti kisah kami ini lah.
Si Kakak dan Si Hantu
Dari
semua cerita seram yang kami alami, kisah si kakak yang didatangi si hantu
paling seram. Bagaimana tidak? Dia itu langsung disamperin oleh si penghuni dan
katanya diajak ke Victoria’s Secret. Like.. what? Normalnya, ngapain
coba hantu ngajak-ngajak ke Victoria’s Secret.
![]() |
| Salah satu produk Victoria's Secret [Photo: Pexels] |
Setelah
merenung semalaman, saya mulai menemukan benang merahnya. Terlepas dari ini bisa
dipercaya atau tidak. Cerita hantu itu ada atau tidak. Semuanya punya posisi
masing-masing antara si kakak dan si hantu.
Si
kakak menyukai belanja, keriuhan kota, dan barang mewah termasuk Victoria’s
Secret. Seharian di Kuala Lumpur dia memang berniat untuk membeli satu dua
produk di sana. Oke, di sini mungkin kita berpikir kalau mimpi si kakak ini
cuma keinginan bawah sadar yang terlalu bersemangat.
Nah,
si hantu ini kan terkenal dengan kehidupan hedon dan dunia malamnya yang nggak
bisa dikategorikan ringan. Mungkin saja dia merasa cocok dengan si kakak yang
dari awal datang memang punya target shopping, selain kerjaan sampingannya juga open
jastip barang mewah.
Si
kakak ini berwajah agak Arab dengan mata besar dan pupil cokelat terang. Cakep,
deh. Sekali melihat, dia seperti melihat wajah-wajah Arab yang khas. Malahan
saya merasa ada koneksi antara darah Indonesia dan darah Arab.
Bisa
jadi, ya. Dia terpilih karena merasa ada kesamaan. Etapi, ini cuma prasangka
saya saja, lho. Tidak nyata.
Urban Legend di Bukit Bintang
Terlepas
dari cerita kami yang bisa dipercaya atau tidak, Bukit Bintang juga
memiliki kisah urban legend-nya, kok. Agak sedikit tidak bisa dipercaya
karena Bukit Bintang itu kawasan elit dan modern. Akan tetapi, setiap daerah
tentu punya cerita dan garis sejarahnya sendiri. Beberapa urban legend yang
terkenal di kawasan Bukit Bintang memiliki asal-usul dan kisah mistis di
sekitar kawasan.
(1). Bekas Penjara Pudu
Di
kawasan Hang Tuah, tak jauh dari pusat Bukit Bintang, ada sebuah proyek yang
masih berbenah. Dulunya dia adalah penjara tua yang menyimpan kisah kelam
penyiksaan dan kematian. Namanya Penjara Pudu. Konon katanya, ada yang melihat
berbagai penampakan di sini. Ada yang melihat mantan narapidana, suara rintihan
dari sel-sel lama, hingga kisah eksekusi yang sering menjadi buah bibir para
pengisah cerita misteri.
Penjara
ini dibangun pada tahun 1891 dan selesai pada tahun 1895. Tahun 2010, sebagian
besar bagian penjara dirobohkan untuk kepentingan pembangunan komersial. Bagian
penjara itu kini menjadi LaLaport, merupakan bagian modern dari Bukit Bintang
City Centre (BBCC).
Keseramannya
itu karena sejarah yang agak bikin merinding, sih. Di Jalan Hang Tuah atau
Jalan Pudu, itu dulunya bekas kuburan Cina. Penjaranya sendiri dibangun pada
masa penjajahan Inggris dengan memanfaatkan tenaga buruh gratisan dari para
tahanan. Di masa Jepang, Penjara Pudu kemudian dijadikan tempat penahanan dan
penyiksaan. Fungsinya sebagai penjara cukup lama, tapi ditutup secara resmi
pada tahun 1996.
(2). Gedung dan Hotel Tua Bersejarah
Namanya
daerah yang sudah ditargetkan sebagai pusat kota yang modern, tentu saja
bangunan lama juga masih eksis di sini. Banyak gedung dan hotel tua yang masih
berdiri kokoh di kawasan ini sering melahirkan cerita horor. Biasanya cerita
ini terdengar dari para staf hotel dan tamu yang menginap.
Tingkatan
horornya masih bisa ditolerir seperti ada bayangan yang melintas tiba-tiba. Ini
persis seperti yang saya alami di apartemen kami. Ada langkah di kamar kosong.
Bahkan ketemu dengan orang asing di dalam elevator.
(3). Mitos Pusat Perbelanjaan Modern
Meskipun kita melihat Bukit Bintang itu sebagai pusat perbelanjaan modern yang nggak ada lawan, tapi untuk urusan horor juga nggak kalah seram. Di media sosial seperti YouTube dan TikTok banyak kreator yang menceritakan kisah-kisah seram mereka. Ada sudut-sudut tertentu di mal besar dianggap angker.
Meskipun nggak ada bukti atau dokumen serta berita resmi yang dirilis soal kehororan ini, tapi dasarnya berdasarkan mulut ke mulut. Kawasan elit Bukit Bintang pada dasarnya adalah tanah sengketa dan kuburan lama.




0 Komentar