Seuntai Cerita di Musim Durian

Semua berawal dari aroma durian yang menusuk sepanjang jalan protokol di Meulaboh. Ruas kiri dan kanan dijual durian yang warna kulitnya kuning keemasan. Pedagang menjajakan durian di mobil pikap dan menatanya di trotoar. Mereka juga menyediakan jasa kupas durian dan mengantongi dalam plastik secara gratis. Jika mau dikemas dalam wadah plastik, tinggal tambah sepuluh ribu.

Saya bukan penggemar durian. Apalagi pengalamana saya nge-duren berbagai macam cerita. Di Beijing, saya pernah tertipu beli durian bawa pulang kulitnya saja. Ini sungguh cerita yang bikin ngakak sekaligus menjadi pelajaran. Jangan sekali-kali membeli durian di luar negeri dengan percaya diri.

berburu durian
Ilustrasi durian dengan daging terbaik
[Photo: Pexels]

Terlepas dari berbagai cerita pilu saya tentang durian, ada satu hal yang membuat saya merasa aneh di tahun ini. Saya sangat ingin makan durian. Bahkan suami saya yang sangat anti dengan durian pun pasrah dan  membiarkan saya makan durian di dapur mertua tanpa ngomel.

Ya, kebetulan saat pulang ke rumah mertua ada durian yang sudah disimpan dalam wadah. Ada beberapa biji dengan daging tebal dan legit. Saya bilang, “nak makan durian boleh?”

“Makan saja,” katanya. Biasanya siapa saja yang makan durian akan ‘diusir’ dari kamar. Kami harus mencari kamar lain untuk bermalam. Malam itu suami saya pasrah. Saya juga tahu diri untuk tidak langsung masuk kamar dengan aroma yang masih tersisa. Saya dan anak-anak memilih menikmati makanan lain dulu sampai aroma durian menghilang, baru kemudian masuk ke kamar.

Durian Tanpa Daging

Makan durian hanya beberapa biji di rumah mertua ternyata tidak membuat saya puas. Jadi, ketika weekend saya memutuskan untuk duduk di cafe pancake di Banda Aceh khusus untuk makan pancake durian. Niatnya memang mau menyelesaikan laporan, tapi camilannya harus pancake durian. Agak maksa memang. Untungnya suami tidak keberatan mengantarkan.

Saya nggak menyangka ternyata harga pancake-nya juga bikin dompet menjerit. Karena sudah terlanjur, saya nggak angkat kaki. Namun memilih duduk sampai laporan mencapai target, baru keluar dari cafe untuk pulang ke rumah.

Ternyata meski harga mahal, pancake durian ini tidak menyelesaikan masalah kepuasan. Saya masih ingin makan durian seutuhnya, sebenarnya. Saya cukup tahu diri tidak meminta suami untuk membelikan durian. Beliau tidak suka durian. Bahkan baunya saja tidak suka.


Pancake durian
Ilustrasi pancake durian di cafe
[Photo: Search by Google Image]


“Beli saja di Meulaboh, tapi jangan makan banyak-banyak,” kata suami sebelum saya kembali ke Meulaboh. Kalimat sederhana itu saja sudah membuat saya melonjak kegirangan.

Begitu tiba di Meulaboh, saya langsung agendakan waktu untuk membeli durian. Saya khusus motoran delapan belas kilometer dari rumah untuk membeli durian. Tidak perlu yang besar, terpenting keinginan makan durian terpenuhi.

Katanya durian pesisir barat Aceh salah satu durian yang terbaik. Setiap kabupaten punya daerah andalan sebagai desa penghasil durian terbaik. Apalagi dari daerah barat dan selatan Aceh, fermentasi durian diolah menjadi gulai yang dinamakan gulee jruek drien. Fermentasi durian (jruek drien) menjadi bahan utama untuk cita rasa olahan durian dalam gulai.

“Kalau dapat durian Panga mantap, Fa. Leumak (lemak) mabok. Mantap itu buat jruek (asam),” kata Mellyan. Teman saya yang asli Aceh Barat. Tahun 2021 dia menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel DKJ. Karyanya sarat mengangkat nuansa keacehan yang kental. Termasuk soal makanan daerah yang mulai punah.

Sepulang bertemu dengan Mellyan, saya memutuskan langsung membeli durian pada penjual pertama yang saya temui di jalan. Kebetulan lapaknya sedang sepi. Di mobilnya juga banyak variasi ukuran. Saya membeli tiga buah ukuran kecil yang dibandrol seharga Rp 50 ribu.

Di rumah, saya langsung membelah durian itu setelah mempelajari tutorialnya di YouTube. Setelah susah payah membelah durian dan mengalami sedikit insiden dari durinya. Saya berhasil membuka durian itu, tapi.. zonk.

Durian itu memang ada isinya, tapi tidak ada dagingnya. Hanya anaknya yang besar dan mulus. Hampir saja saya menangis, tapi saya ingat masih ada dua buah durian lain. Saya berdoa semoga duriannya lebih bagus. Berdaging tebal dan berbiji kecil.

Kedua durian yang tersisa sama menyedihkannya. Jangan tanya bagaimana kecewanya. Seharusnya saya membelah durian itu langsung di lapak penjualnya. Sehingga kalau ada yang kosong bisa langsung diganti dengan yang baru. Meskipun kalau tidak ditawari dengan durian baru saya juga nggak akan minta.

Intinya malam itu saya kecewa membeli durian tanpa daging. Rasa ingin makan durian saya belum terpenuhi. Untuk kembali dan membeli durian lain saya takut kecewa lagi.

Tawaran Adik Ipar

Malamnya saya berkirim kabar dengana adik ipar saya di Takengon. Dia mengabarkan kalau akses menuju Takengon sudah bisa dilalui melalui jalur Beutong Ateuh. Beutong ateuh bagian dari Kabupaten Nagan Raya, juga mengalami kerusakan dan dampak paling parah selama bencana. Namun kinerja warga yang berkolaborasi dengan TNI membuat akses lebih cepat selesai. Jalan inilah yang menghubungkan Aceh Tengah dengan Aceh Barat.

Adik ipar saya mengatakan kalau semua barang yang ingin saya kirimkan ke Takengon bisa dikirim dengan armada minibus L300. Namun saya berpikir lain, sepertinya saya ingin pulang saja ke Takengon. Tidak lupa saya tanyakan, apakah ada durian enak di sana.

“Banyak kali pun lah, Kak. Maunya kakak makan durian yang kek mana modelnya? Semua ada di sini, Kak. Pulang pun dulu kakak. Nanti kita cari sama abang tu,” kata adik ipar saya dengan logat Gayo yang kental. Abang yang dimaksud itu adalah suaminya, adik kandung saya.

Tawaran itu tidak saya sambut dengan main-main. Saya langsung menelpon supir armada langganan dan memesan satu kursi untuk pulang. Tidak lupa saya tanyakan ongkos mobil yang naik Rp 20 ribu sejak bencana. Tidak masalah. Saya ingin pulang.

Duren Kota

Duren kota memang menyenangkan,” kata seorang teman saat memberi tahu bahwa saya akan mencari duren kota. Namun duren yang kami maksud berbeda. Duren yang saya maksud adalah durian, duren yang dia maksud adalah duda keren. Ah, zaman now orang suka berpikir aneh-aneh.

Saya dan adik memutuskan untuk jalan-jalan di pusat kota. Makan ayam penyet, beli bakal baju untuk lebaran, dan singgah sebentar di Alfamart untuk membeli beberapa kebutuhan. Saat sedang duduk di depan Alfamart sambil menyeruput susu UHT kotak. Saya melihat adik dan adik ipar saya melaju di atas roda dua sambil tertawa.

“Dek!” panggil saya keras. Mereka menoleh dan berhenti. Kami mengobrol sekedar tanya mau kemana dan ngapain.

“Nge-duren kita, Kak?” tanya adik ipar saya. Langsung saya iyakan. Akhirnya perjalanan berburu duren kota saya dimulai.

Saya dan adik perempuan berboncengan satu motor. Adik ipar dan suaminya berdua. Kami mengikuti mereka sebagai penunjuk jalan. Kami berhenti di depan terminal lama. Jajaran penjaja duren membuka lapak dengan tulisan harga yang membuat jiwa menghabiskan uang meronta-ronta. Ada yang Rp 5000/buah, ada pula yang Rp 20 ribu pertiga buah.


Pohon durian
Ilustrasi durian yang masih muda
[Photo: Pexels]

Kami memilih lapak yang menyediakan meja dan kursi plastik. Kami duduk di sana. Adik saya dan si penjual yang memilih durennya. Kami tinggal menyantap dengan bahagia.

Satu jam mencicipi duren kota, kami cukup puas. Saya bahkan mulai merasa pening tapi mulut masih ingin mencicipi. Namun saya putuskan tidak menuruti selera. Kami memutuskan pulang dengan separuh duren belum terbuka.

Adik laki-laki saya memutuskan mentraktir. Saya cukup kaget dengan harganya yang mengejutkan. Rp 35 ribu sampai puas. Hah? Ini jualan atau sedekah?

Menetralkan Kebiasaan dengan Membuka Lapak

Saya pikir mereka adalah orang yang mengambil duren dari petani. Ternyata sebagian besar penjual juga petani duren yang mencoba menetralkan kebiasaan dengan membuka lapak di kota. Itu cerita adik saya yang berhubungan baik dengan para petani duren.

Ternyata selama musim panen durian banyak petani yang memilih bermalam di kebun durian. Seringkali kebun durian di musim panen memang harus dijaga untuk mencegah durian hilang secara ‘misterius’. Banyak di antara mereka yang membuat gubuk selama musim panen untuk langsung mengumpulkan jika ada durian yang jatuh.

Berbeda dengan kebanyakan buah lain, durian yang matang ditandai dengan luruh dari batangnya secara alami. Bukan dipetik meskipun itu juga kerap terjadi. Buah yang jatuh dari batangnya rasanya lebih baik daripada yang dipetik apalagi melewati proses karbit.

Selama berminggu-minggu menongkrongi pohon durian, terjadi perubahan pada pola tidur petani. Untuk mengisi waktu dan menambah pemasukan, petani akan menjual sendiri dagangannya di pinggir jalan. Tentu saja selain menunggu agen besar datang ke kebun dan mengangkut hasil panen petani.

Petualangan Para Petani adalah Cermin Kerja Keras

Percaya atau tidak, petani Aceh tidak selalu kehabisan akal untuk melariskan dagangannya. Apa yang dilakukan oleh kebanyakan petani adalah bagian dari usaha yang tak putus untuk meghidupi keluarganya. Petualangan para petani dari mulai mempersiapkan panen, menunggui durian jatuh, sampai membuka lapak adalah cermin kerja keras.

Posting Komentar

0 Komentar