Berburu Durian Gayo Pasca Bencana

 Awal tahun jalanan di Aceh dipenuhi dengan penjual durian. Sepanjang jalan-jalan Aceh dipenuhi dengan penjaja durian pada malam hari. Saya baru sadar, musim durian telah tiba. Maka misi saya di awal tahun langsung tertulis di buku agenda: berburu durian Gayo pasca bencana.

Perjalanan Tanpa Rencana

Dua bulan setelah bencana, beberapa akses sudah terhubung   kembali dengan jembatan darurat. Saya terus memantau perkembangan akses menuju ke Aceh Tengah melalui media sosial. Saya juga memantau melalui status para supir angkutan umum lintas kabupaten yang membawa informasi penting.


durian
Musim durian ditandai dengan banyaknya penjual dadakan di tepi jalan.
[Photo: Pexels/Jefilms]


Saat adik ipar saya mengatakan akses ke Aceh Tengah sudah bisa dilalui, saya langsung menghubungi sopir mopen L300 lintas Aceh Barat ke Aceh Tengah. Begitu dikatakan aman, saya langsung memesan tiket pulang.

Dua bulan tanpa kepastian sempat memadamkan harapan saya sebagai anak. Saya rindu Mak. Saya ingin bertemu dan memeluk Mak segera.

Bermodal beras setengah goni pemberian dari mertua, saya langsung pulang dengan beberapa kebutuhan lainnya. Satu koper baju bayi juga ikut saya angkut untuk adik ipar yang akan segera melahirkan. Meskipun toko sudah buka, tapi kehidupan masih membutuhkan biaya yang tinggi.

Perjalanan tanpa rencana lebih mudah terwujud daripada wacana tanpa realisasi. Maka, Kamis pagi di akhir Januari saya melaju dengan pendakian Gunung Singgah Mata, melintas jembatan darurat di Beutong Ateuh, dan menyaksikan sisa longsor di sepanjang jalan menuju Aceh Tengah.

Nge-Duren Tengah Malam

Malam pertama di Aceh Tengah saya mencoba menyesuaikan diri. Dinginnya menusuk hingga ke dalam tulang. Saya tidur dengan dua lapis selimut. Malah jaket berbulu yang saya gunakan di musim dingin ikut saya gunakan untuk menghalau dingin. Itupun tidak sepenuhnya memberi kehangatan untuk tubuh.

Saat Mak membuat rencana untuk esok hari, kalimat Mak hanya melintas di telinga tanpa sempat diproses di otak. Sepanjang malam saya menggigil, untungnya ada hot cream yang mampu membuat tubuh lebih hangat.

Keesokan paginya saya membereskan apa yang bisa diselesaikan. Termasuk membantu Mak membereskan rumah. Menyelesaikan pekerjaan kantor yang terpaksa saya bawa liburan mendadak. Sorenya Mak mengajak saya melihat jejak longsor.

Saya bergidik ngeri saat melihat jejak-jejak bencana begitu banyak di atas gunung. Tanda lintasan air dan longsor berwarna coklat merata dan menyebar di seluruh gunung. Meskipun dari jauh, longsor itu begitu nampak lebar. Saya sampai terdiam membayangkan dua bulan lalu yang mencekam.


longsor
Jejak-jejak longsor dan aliran air setelah dua bulan bencana.
Pemandangan dari kebun Mak.
[Photo: Ulfa Khairina]

“Nggak usah dipikirin. Terpenting sekarang kita bisa makan. Malam ini nge-duren kita,” kata adik ipar saya yang sedang hamil memasuki bulan kesembilan

Benar saja. Malamnya kami keluar rumah ke arah pasar. Di mana ada keramaian, di sanalah duren sedang dibelah. Saya penasaran bagaimana kehidupan masyarakat pasca bencana. Misi nge-duren tengah malam tercapai.

Durian Harga Bencana

Bukan orang Aceh namanya jika bencana datang mereka merengek menjadi pengemis. Meski pembelinya berputar orang-orang itu saja, mereka tetap membuka lapak. Ternyata berbagai macam jenis bencana yang dilalui orang Aceh telah menempa mereka menjadi pejuang handal dalam bertahan hidup.

Tumpukan durian berbagai ukuran diatur di tepi jalan. Dua set meja plastik diletakkan di depan toko-toko yang sudah tutup. Saya dan dua adik perempuan duduk di kursi plastik. Kami menunggu adik lelaki saya dan penjual durian membelah durian yang akan kami nikmati.

“Ini nggak sama duriannya, Kak. Coba makan ini,” kata si penjual. Dia meletakkan sebuah durian kecil dengan daging warna kuning berkilat di atas meja. Dagingnya tebal, anaknya kecil. satu ruang hanya ada satu atau dua anak dengan daging penuh.


Durian berdaging kuning
[Photo: Pexels/Andromeda99]

Saya mengambil satu. Mencoba sedikit. Sedap! Saya pun lupa kalau tidak boleh makandurian terlalu banyak.

Durian-durian itu dijual dengan harga bencana. Sebuah durian kecil dijual seharga Rp 5 ribu saja. Satu buah durian kecil sudah saya teler.

Ada yang ditumpuk seharga Rp 10 ribu. Tiga buah durian kecil dengan kualitas super. Begitu adik ipar saya berkata. Durian yang paling besar dan terlihat paling mewah di antara seluruh durian dibandrol Rp 35 ribu perbuah. Itu disebut durian premium.

Kami tidak membeli yang besar, tapi memilih durian kecil-kecil sepuasnya. Itu saja sudah terasa premium di lidah saya. Rasanya manis, lemak, dan legit. Malam itu kami makan sepuasnya, tapi hanya membayar Rp 35 ribu saja. Bahkan si penjual memberi bonus dua buah durian kecil untuk kami bawa pulang.

Kami sudah menolak, tapi si penjual berkata durian itu untuk Mak. Meski tidak saling kenal, kami tidak bisa menolak. Ini adalah bentuk tradisi dan sopan santun para penjual jika mereka senang.

Berburu Durian ke Gegur Sepakat

Paginya adik saya bertanya, “semalam bagaimana? Aman?”. Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Di antara kakak beradik, saya terkenal paling lemah berhadapan dengan durian. Makan sedikit saja langsung mabuk dan demam.

“Aman,” kata saya. kenyataannya memang begitu. Mungkin karena keinginan yang terlalu kuat untuk makan durian membuat tubuh lebih siap menerima asupan durian berlebih.

“Bagaimana kalau kita ke kebun durian di Bener Meriah. Ada petani saya yang sedang panen,” ajak adik saya dengan semangat. Dia adalah penyuluh pertanian di Kementerian Pertanian. Salah satu wilayah kerjanya di Kecamatan Timang Gajah yang terkenal dengan duriannya.

Saya langsung setuju tanpa basa basi. Mak yang terus mengingatkan jangan makan terlalu banyak. Sampai akhirnya saya langsung melaju di atas dua roda dengan adik kandung sejauh 60 kilometer.

Selain mencari durian, saya punya misi lain. Melihat jejak bencana di sepanjang jalan nasional. Terutama akses Tenge Besi yang terkenal paling parah dan viral di media sosial. Belum puas rasanya jika tidak melihat langsung. Ternyata memang tidak separah di media sosial, tapi MENGERIKAN.

Pulangnya kami singgah di Ronga-Ronga untuk membeli wadah plastik untuk mengisi durian. Harga wadah plastik sekali pakai dibandrol Rp 10 ribu untuk muatan 1800 mililiter. Tidak ada tawar menawar.

“Harga bencana ini, Dek,” kata penjual itu saat saya minta kurang. Karena lupa membawa wadah dari rumah, saya memutuskan untuk membeli wadah plastik itu.

Kami tiba di rumah salah satu petani di Gegur Sepakat. Teras rumahnya dipenuhi dengan durian. Ada mobil angkutan L300 berwarna merah trayek Bireuen terparkir di halaman. Ternyata itu adalah agen yang membeli durian dari petani dan menjual lagi kepada pengecer di kabupaten lain.

Harga jual dari petani kepada agen sangat murah. Setumpuk  berisi lima buah durian kecil-kecil dihargai Rp 15 ribu. Sedangkan durian terbesar satu buagnya Rp 15 ribu. Hari itu saya melihat semobil penuh durian itu dihargai hanya Rp 2,8 juta saja. Tak sebanding dengan resiko dan sulitnya menunggui durian di bawah batang.

“Selama bencana ini harga durian turun seribu, Kak. Perbuah, pertumpuk.” Kata istri petani itu. Tidak ada rasa sedih di matanya. Seolah naik turun harga durian sangat biasa bagi mereka.

Seribu rupiah terdengar biasa. Seolah-olah harga yang sangat murah dan tidak terhitung. Akan tetapi, seribu perbuah atau pertumpuk sangat berharga dan mahal. Setiap kali panen, petani bisa mengalami kerugian sampai ratusan ribu.

“Kapan lagi panennya, Kak?” tanya saya begitu agen durian meninggalkan rumah petani itu.

“Minggu depan, Kak. Lusa ada juga di seberang sungai sana, tapi bawanya susah. Harus pakai sling.” Sling yang dimaksud adalah kawat seling (wire rope) untuk jembatan darurat dan penyebrangan sungai di daerah bencana. Beberapa daerah di Aceh Tengah dan Bener Meriah masih menggunakan sling untuk penyeberangan.

Peumulia Jamee dengan Durian Gayo

Kami terus bercerita. Tuan rumah terus membelah durian dan menyodorkan kepada saya. Setiap kali saya menolak, tuan rumah terus mengatakan, “ini beda lagi, Kak. Ini durian mentega.”

Promosi dan penamaan unik itu terus membuat saya mencicip setiap durian yang disodorkan. Sebelum pulang, tuan rumah mengeluarkan sebuah durian paling besar dan membelahnya di depan kami.


durian gayo
Durian juga sering diborong langsung dari batangnya.
[Photo: Pexels/Mat Umar]

Dagingnya tebal, bijinya kecil, permukaannya berkilau dan aromanya menyengat. Sepertinya itu buah terbaik yang disimpan untuk dimakan sekeluarga. Namun saya cukup tahu diri untuk tidak mengembat suguhan terbaik yang diberikan.

Saya hanya memakan dua biji saja. Rasanya pahit dan manis berpadu dengan legit yang khas. Aromanya memabukkan. Saya benar-benar tidak kuat lagi.

Sementara itu, adik saya dan petani durian sedang mengupas buah dan memindahkan daging durian ke dalam wadah plastik yang kami bawa. Setengah karung durian berpindah tempat. Saat kami hendak membayar, si petani menolak dengan tegas.

Di Aceh bagian manapun, saat ada tamu datang berkunjung mereka akan mengeluarkan menu terbaik yang mereka punya. Begitu juga petani ini, mereka memberikan durian terbaik yang sengaja disimpan untuk keluarga. Ini adalah bagian peumulia jamee (memuliakan tamu) dalam tradisi Aceh.

Adik saya memaksa membeli durian yang tadinya memang dibungkus untuk oleh-oleh. Namun kami tidak menyangka, seisi rumah mendadak riuh. Ada yang mencari kardus, ada yang mencari karung, tali plastik, dan mengumpulkan durian kecil-kecil dengan kualitas terbaik. Selain mendapatkan dalam wadah, kami juga membawa pulang satu dus durian lagi.

Saya pikir kardus itu isinya hanya beberapa buah saja. Ternyata saat dibelah dan disimpan lagi ke dalam wadah. Kami mendapatkan dua wadah dengan isi 2500 ml lagi. Sungguh kunjungan yang luar biasa.

Mabuk Duren

Sepanjang perjalanan pulang saya mulai pening. Saya persis seperti orang mabuk. Mendengar semua yang diceritakan adik saya, tapi tidak sekalipun mampu merespon. Begitu tiba di rumah, kamnar adalah tujuan. Saya tidur hingga menjelang magrib.

Malamnya saya mabuk duren. Bukan duda keren, tapi durian terbaik yang saya pernah saya makan selama hidup.

Berbagai cara saya coba. Mulai dengan menenggak banyak air putih sampai meminum susu UHT karena saran dari laman alodokter. Saya meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mendapatkan obat, tapi adik saya menolak.

tensi darah
Tensi darah salah satu yang disarankan saat berlebihan makan durian.
[Photo: Pexels/Pavel dan Ilyuk]

“Kalau masih tahan atau pening sedikit, minum air putih saja. Kalau ke rumah sakit, nanti kamu diopname dan diberikan obat pereda darah tinggi,” katanya. Malam itu saya juga melakukan tensi darah. Tekanan darah saya 125, sedikit tinggi untuk saya yang terbiasa dengan tensi 110 atau 115.

Di daerah kami, orang-orang percaya bahwa setelah makan durian tidak boleh minum susu. Sementara jika merujuk pada artikel kesehatan, susu adalah salah satu penetral mabuk durian. Masih ada juga air kelapa, manggis, dan minum langsung dari kulit durian. Selain minum dari kulit durian, penetral lain dianggap musuh durian. Makan durian dilanjutkan dengan makan manggis, air kelapa, atau susu sama dengan bunuh diri.

Durian Gayo di Mata Orang Aceh

Gayo itu Aceh. Ya, benar. Jika itu dilihat dari letak geografis. Suku Gayo berada di Aceh, tapi orang Gayo dan orang Aceh adalah dua etnis yang berbeda meski sama-sama tinggal di Aceh.

Tidak banyak orang yang mengenal durian Gayo. Setiap kabupaten memiliki durian andalannya. Kawasan barat menganggap durian Panga adalah rajanya durian. Sementara kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh menganggap durian Leupung adalah yang terbaik. Selain durian Panga dan durian Leupung, ada durian Tangse yang tidak kalah juara.

Durian Rongka dan durian Timang Gajah dikenal sebagai durian terbaik untuk daerah dataran tinggi. Kalau orang Aceh (suku yang berdiam di kawasan pesisir) sudah pernah mencicipi durian Gayo, maka mereka akan mengakui kekuatan yang terkandung dalam durian itu.

Seorang malah mengingatkan saya kalau durian Gayo sangat lemak. Berminyak, dan kandungan gasnya tinggi. Bahkan kalau sudah terlalu matang gasnya bisa memabukkan.

Pantas saja, sejak kecil saya tidak pernah aman bila makan durian. Saya pasti tumbang setelah menikmati dua biji. Sekalipun sudah diolah menjadi ketan durian, jika saya menikmatinya lebih dari sepiring kecil. malamnya saya muntah, berlanjut demam, tak jarang harus masuk rumah sakit.

Di mata orang Aceh yang sudah menikmati durian Gayo, durian dari dataran tinggi ini adalah satu yang terbaik di antara durian dari daerah lain di Aceh. Dalam hal ini, saya tidak tahu harus setuju atau tidak. Karena bukan penggemar durian dan selalu tumbang diajak nge-duren. Saya tidak tahu membedakan antara terbaik dan biasa saja.

Posting Komentar

0 Komentar