Satu hari ketika saya berada di rantau jauh, teman saya beretnis Sunda menelepon. Dia mengundang saya untuk datang ke rumah dinas mereka sebagai staf KBRI. Jarak dari tempat saya tinggal lumayan jauh, maka saya putuskan untuk tidak hadir pada undangannya.
“Yah,
sayang sekali, Teh. Kita buat munggahan ala-ala anak kos di Beijing, nih,”
katanya. Ala-ala katanya, tapi saya itu pasti makan bersama mewah yang sering
dibicarakan anak-anak Indonesia di paguyuban.
![]() |
| Masjid Niu Jie sebagai salah satu bukti perjalanan Islam di Beijing. [Photo:bpperry/iStock] |
Di hari
yang sama, saya juga sedang melestarikan kearifan lokal Aceh di tanah
konfusius. Sebagai orang Aceh, sebelum Ramadan, hari raya Idul Fitri, dan Idul
Adha ada yang namanya meugang. Meugang adalah tradisi
memasak daging untuk disantap bersama dengan keluarga, kerabat dekat,
orang-orang di sekitar, dan anak yatim piatu.
Dua Hari Sebelum Ramadan
Dua
hari sebelum ramadan, saya sudah membeli daging sapi di los daging halal di ximen
(gerbang barat) kampus. Jaraknya lumayan untuk olahraga. Harga daging halal
juga sedikit lebih mahal dibandingkan yang tidak halal. Sebagai seorang muslim,
tentu saja memilih yang halal adalah keharusan.
Saya
juga sudah membeli rempah untuk membuat rendang. Bahkan beberapa rempah ada
yang saya bawa dari Indonesia. Modal memasak rendang di Beijing lumayan menguras
dompet. Namun ini kearifan lokal yang ingin saya perkenalkan kepada teman-teman
asing saya.
Di dapur
asrama, saya mulai memasak rendang. Aromanya menguar seasrama mulai pada
penuangan pertama bumbu ke dalam wajan. Saking kuatnya aroma, beberapa anak
Indonesia yang selama ini nggak pernah saling menyapa mengintip ke dapur. Namun
mereka langsung berpaling saat kami bertatapan mata.
![]() |
| Rendang sebagai salah satu hidangan saat meugang [Photo: Pexels] |
Dalam
hati saya, “ah, sayang sekali. Padahal kalian mau aku undang, lho.” Sayangnya lagi,
karena kami tidak saling kenal satu sama lain, saya nggak punya kontak mereka
dan nomor kamar mereka. Saya hanya tahu salah satu di antara mereka tinggal di lantai
yang sama dengan saya.
Saya
pernah mencoba mencari tahu di grup mahasiswa asing. Nama mereka tidak saya
temukan. Memang tidak heran, di Wechat para mahasiswa tidak menggunakan nama
asli sepenuhnya. Biasanya mereka menggunakan nama panggilan atau nama China
mereka. Begitupun saya.
Saya
memasak dari pagi sampai sore. Masakannya beragam. Rendang sebagai hidangan
utama. Selain itu ada juga sup daging dengan tambahan Indomie. Saya juga membuat
air timun, perkedel kentang daging, gado-gado, bakwan, dan sebuah semangka ukuran
besar. Tidak lupa kearifan lokal Indonesia yang tidak bisa dipisahkan dari meja
makan, nasi putih.
Mengundang Teman Dekat Untuk Makan
Makanan
sebanyak itu tidak mungkin saya makan sendiri. Namun mengundang di grup juga
nggak mungkin. Tidak kebayang seberapa banyak yang datang untuk makan. Untuk urusan
perut, anak kos di seluruh dunia sama. Masih banyak yang doyan makan gratis. Jadi,
saya hanya mengundang teman dekat untuk makan di kamar.
Saya
menyediakan piring kertas tebal sekali pakai. Paper cup sekali pakai,
dan sendok garpu. Mereka datang tepat pada jam makan malam. Tidak seorang pun
datang dengan tangan kosong. Ada saja yang mereka bawa. Ada yang membawa paper
cup dan coca cola. Ada pula yang membawa manisan dan buah.
Terharu
banget, dong. Saya mengundang, mereka datang, tapi bawa banyak makanan baru yang
bisa distok untuk sebulan puasa. Sebagian dari bawaan mereka kami buka dan
nikmati bersama. Sisa yang masih utuh disimpan dalam lemari penyimpanan untuk
makan-makan pada hari selanjutnya.
Jika
berpikir soal balik modal, tentu saja tidak. Sekali lagi, ini bukan soal barter
seperti bisnis. Ini cara saya memperkenalkan kearifan lokal Aceh bernama meugang.
Amanah Indatu Untuk Memuliakan Hari Mulia
Meugang
di Aceh bukan sekedar tradisi makan bersama. Ia adalah
warisan turun temurun sejak masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Meugang atau
makmeugang memiliki makna simbol dari rasa syukur, gotong royong, simbol
dari silaturahmi. Konsep meugang ini berbagi rezeki. Orang-orang yang
lebih mampu berbagi rezeki dengan orang yang kurang beruntung. Bagi orang Aceh,
berbagi dengan hidangan ini disebut dengan khanduri, khauri, atau kenduri.
Bagi
kebanyakan orang Aceh, meugang adalah amanah indatu untuk memuliakan
datangnya hari mulia. Jadi, setidakmampu apapun orang, umumnya mereka akan menguasakan
dan menabung sepanjang tahun untuk hari meugang. Bentuknya beragam, jika
tidak mampu membeli daging, mereka akan menyembelih seekor ayam atau membuat
bumbu rendang yang nantinya akan diisi dengan telur ayam.
Di keluarga
saya, ada sebuah kebiasaan yang diceritakan oleh Mak setiap meugang tiba.
Mak akan bercerita tentang sulitnya neneknya dulu. Jangankan untuk membeli satu
ons daging, untuk membeli telur pun sulit. Akan tetapi, di masa lalu
orang-orang tidak ingin menyedihkan diri di hari meugang hanya karena
tidak mampu membeli daging.
Nenek
Mak saya menggiling bumbu, mengukur kelapa, dan menumis bumbu daging. Aroma
rempah berpadu daun salam dan serai menguar keluar rumah menandakan bahwa rumah
Nenek juga merayakan kehadiran bulan mulia. Hari baik bulan baik (uroe get
buleun get).
Cerita
Mak mengandung plot twist. Saya pikir setelah Nenek Mak melakukan tumis
bumbu, tetangga akan terkecoh. Ternyata tidak. Tetangga akan tetap mengantar
rantang berisikan olahan daging dan makanan-makanan lain. Itu adalah bentuk
pengikat silaturahmi paling sakral yang pernah Mak rasakan di masa kecil.
Mendengar
cerita ini, saya berulang kali meneteskan air mata. Padahal saya sudah
mendengarnya sepanjang hidup. Setelah dewasa, saya baru menyadari bahwa air
mata itu bukan karena saya sedih dengan kisah Nenek Mak, tapi rasa syukur
betapa kehidupan kami sudah jauh lebih baik. Kami bisa membeli daging dan
menyantapnya bersama keluarga. Sepuasnya, sesukanya, diolah menjadi menu apa
saja.
Memperkenalkan Meugang di Tanah Konfusius
Tradisi
keluarga ini saya bawa ke tanah Beijing. Misi saya sederhana: memperkenalkan meugang di Tanah Konfusius. Kemudian menjelaskan pesta apa yang sedang kami
rayakan. Mereka sangat excited. Terlebih soal makan-makan yang menurut
mereka paling menyenangkan.
![]() |
| Ilustrasi makan bersama saat meugang [Photo: Pexels] |
Tidak
banyak dari mereka yang pernah mencicipi masakan nusantara. Apalagi setelah
makan, mereka mencari informasi di Google dan Baidu tentang nama menu yang saya
hidangkan. Mereka semakin senang. Bahkan ada yang berawal dari makan-makan itu
berujung pada kunjungan ke Indonesia demi memenuhi rasa ingin tahu kekayaan
kuliner nusantara.
Saat
saya bercerita asal mula meugang dan bagaimana ia menjadi tradisi. Mereka
juga terkagum-kagum, ternyata di era yang sudah lebih maju seperti sekarang
masih ada yang mau melestarikan kearifan lokal Indonesia di negeri asing.
Nasib Meugang di Generasi Kekinian
Sebenarnya
dalam hal ini saya merasa sedih. Sudah banyak anak muda yang mulai meninggalkan
tradisi meugang saat mereka merantau. Alasannya terlalu repot membawa
tradisi di kampung ke yang tempat baru. Bermula dari membiarkan dapur tidak
mengepul dan beralih membeli makan cepat saji, kemudian sampai sama sekali
tidak menganggap meugang penting.
Bagi
generasi kekinian, meugang bukan saja merepotkan tapi juga terlalu banyak
ngemodal. Generasi kekinian yakin untuk menikmati seporsi daging tidak sesulit zaman
nenek kakek kita dulu. Sepotong daging rendang lengkap dengan nasi bisa didapat
di warung nasi padang tidak sampai Rp 50 ribu.
Memasak
daging juga menyita banyak waktu. Waktu memasak bisa digunakan untuk aktivitas lebih
produktif dan menghasilkan uang. Generasi kekinian memiliki cara pandang
berbeda untuk kearifan lokal yang menjadi tradisi orang Aceh.
Muggahan dan Meugang
Melihat
tradisi yang dijalankan, saya memberi penilaian kalau muggahan dan meugang memiliki
konsep yang sama. Waktu pelaksanaannya sama, yaitu satu hari sebelum Ramadan. Meskipun
di Aceh bisa berlangsung sampai tiga hari sebelum Ramadan hingga satu hari
sebelum Ramadan. Aktivitas utama juga sama-sama makan bersama untuk menyambut
dan mensukuri datangnya bulan mulia.
Dalam
pelaksanaan meugang, ada unsur sosial, ekonomi, dan adat. Sama seperti
munggahan, tujuannya sama-sama memperkuat tali silaturahmi dan membersihkan
dosa sebelum bulan baik tiba. Di Aceh bagian barat dan selatan, ada aktivitas
lain yang menjadi bagian dari meugang. Masyarakat ramai-ramai
mengunjungi tempat wisata seperti pantai dan berbagi makanan bersama. Selain itu,
menziarahi makan keluarga terutama orang tua sudah menjadi bagian dari budaya.
Ngomongin
munggahan, saya jadi teringat salah satu teman virtual yang ada tinggal
di Jawa Barat. Sepertinya akan asyik bila sebelum Ramadan tiba berkunjung
ke sana untuk merasakan munggahan.




0 Komentar