Do It (Bagian 2)

 Menabung di Beijing tidak mudah. Setiap bulan bukannya tertabung, tapi malah terutang. Aku tanyakan berulang kali pada mahasiswa yang sudah berusia tua dan punya perencanaan bagus dalam pengelolaan serta manajemen keuangan. Apa penyebab aku tidak bisa menabung? Padahal aku sudah berusaha maksimal dalam menabung.

“Tidak masalah, Fa. Ini semester pertama. Kamu butuh banyak hal untuk dibeli. Semester kedua atau tahun kedua, insyaallah kamu akan bisa menabung. Kamu tidak boros. Kamu memang belanja sesuai dengan kebutuhanmu saja. Biaya hidup di Beijing memang sangat mahal,” tutur Eshraga, perempuan berusia setengah abad asal Sudan.


Pakaian termasuk kebutuhan primer yang harus dibeli.
[Photo: Dokumentasi Pribadi]

Kalimat Esharaga melegakan hatiku. Kelegaan ini ternyata tidak berlangsung lama. Ketika meluangkan waktu mengobrol dengan teman di provinsi lain Tiongkok, dia menceritakan punya rencana mendatangkan seseorang dari Indonesia. Kami yang akan patungan untuk menanggung tiket pulang pergi, makan, transportasi lokal, penginapan di Tiongkok, dan akomodasi lainnya. Mereka meminta sumbangan wajib sebesar 500 RMB setiap orang. Lebih boleh, kurang tidak boleh. Aku terkejut, ini bukan jumlah yang sedikit untuk kondisiku di awal semester.

“Aku nggak punya uang sebanyak itu. Sampai sekarang saja tabunganku nggak sampai sebanyak itu. Ini kan baru bulan kedua aku di sini, masuk bulan ketiga. Sebulan aku hanya bisa menabung dua ratus yuan,” kataku pada si teman. Jujur tanpa menutupi apapun.

Respon yang aku terima sangat menohok, “itu karena kamu nggak pernah sedekah. Semester pertama aku di China, aku bisa beli smartphone. Semester kedua aku bisa jalan-jalan ke Beijing, Xinjiang, Xi’an, Ningxia, dan daerah berpenghuni muslim lainnya. Semester ketiga aku bisa beli laptop baru. Kemarin aku juga baru beli laptop baru untuk adikku di Indonesia. Masih sisa juga tabungan. Alhamdulillah, cukup untuk menyumbang lima ratus yuan perbulan. Itu karena aku rajin sedekah, rezeki berkah.”

Deg!

Perkara apa ini?

Mengapa teman ini mengungkit-ungkit ibadahku?

Sejak itu aku mulai membuat jarak dengan mereka.

Komunikasi mulai berdurasi. Untuk menjaga silaturahmi, aku hanya mengirimkan pesan setiap dua minggu sekali. Dibalas singkat atau tidak sama sekali. Intinya jika aku tidak bisa bersedekah untuk kas, aku sama sekali bukan bagian dari keluarga. Kubagi perkaraku pada teman yang sesama penerima beasiswa. Itu juga karena dia pernah mengeluh padaku bahwa beasiswa yang dia terima tidak cukup untuk biaya hidup di Beijing. Berbeda dengan para mahasiswa penerima beasiswa di provinsi lain Tiongkok. Setidaknya mereka masih bisa hidup enak dan layak dengan unggahan foto rutin di media sosial. Tentu saja membagi kebahagiaan di rantau. Kemewahan sebagai penerima beasiswa. Hal yang tidak semua dari kami bisa lakukan jika hanya mengandalkan uang dari beasiswa.


Whatapp salah satu jejaring komunikasi yang sudah lama digunakan. 
[Photo: Pexels]

Di saat kegalauan soal sumbangan, teman dekat yang pernah mengirimkan dua juta memaksaku untuk pulang. Dia mengatakan ada sesuatu yang mendesak akan dibicarakan denganku. Aku sempat terlalu percaya diri. Berpikir yang tidak-tidak tentang masa depan. Bahkan ketika dia menawarkan diri untuk meminjamkan uang untuk membeli tiket yang tidak murah. Aku tidak langsung mengatakan iya. Tapi juga tidak menolak.

Akhir semester, ketika aku baru memutuskan tidak pulang di liburan musim dingin. Sebuah kabar menyesakkan datang melalui telepon. Ayah meninggal dunia. Stroke kedua menyerang sehingga menyebabkan terjadi penyempitan aliran darah ke otak. Operasi yang dilakukan tidak membuka mata ayah untuk menungguku  dengan balutan toga. Akan tetapi hanya membuka sejenak untuk mendengarkan bisikan adikku tentang, “Kakak baik-baik saja.”

Ayah adalah orang yang memodaliku untuk berangkat ke Beijing. Memintaku berdiri dengan kedua kakiku sendiri tanpa berharap dari bantuan manusia. Bersujudlah pada Allah. Maka Allah akan menolongmu. Menurut Ayah, aku mampu memperbaiki kehidupanku sendiri setelah berada di Beijing dengan doa dan usaha.

Aku tidak melihatnya menutup mata. Bahkan tidak cukup uang untuk membeli tiket pulang. Hari ayah meninggal berpapasan dengan tahun baru dan liburan panjang. Harga tiket melonjak berkali-kali lipat. Aku tidak menyangka harga tiket dari Beijing ke Banda Aceh mencapai Rp 14 juta.

Di saat semua keluarga dan adik-adikku sedang bersama saling menanggung duka dan memberi kekuatan. Aku terpaku di depan jendela kamar. Salju pertama di musim dingin mulai berjatuhan dari langit. Aku tidak merasakan sensasi apapun. hanya kesedihan di antara serpihan salju yang berjatuhan. Tiket yang dibelikan untuk pulang tiga hari lagi. Hanya pada hari itu penerbangan yang tersedia.

Sekali lagi aku merasa menyesal. Harusnya aku tahan lapar. Harusnya aku tidak di sini. Harusnya aku punya uang sendiri. Jadi aku bisa membeli tiket pulang tanpa dibelikan oleh orang lain yang sungkan aku terima. Temanku ini mendonorkan darah untuk ayah. Itu sebabnya dia tahu kondisi ayah yang tidak mungkin bertahan lebih lama lagi. Dia memaksaku pulang tanpa megabari kondisi sebenarnya. Dia juga tidak ingin membuatku terpuruk di rantau.


Semakin tinggi nilai mata uang, semakin banyak masalah.
[Photo: Pexels]

Sialnya, ini justru pesan ayahku juga, “jangan beri tahu Fafa. Biarkan dia belajar dengan tenang.”

Aku tiba di rumah pada hari kelima kepergian ayah. Perabotan di rumah sudah diangkut ke tempat lain bergantikan dengan tikar plastik. Lantai dapur penuh dengan piring-piring yang ditelungkupkan. Akan diambil lagi ketika pelayat datang. Satu persatu tamu datang dan pergi. Begitupun saudara yang datang. Mereka memelukku dalam tangis.

Tetangga yang datang saling berbisik. Ada yang mengasihaniku. Ada yang mengatakan aku anak tidak tahu diri. Anak durhaka. Ada pula yang berkomentar untuk ayahku, “ternyata dia punya anak yang pintar juga. Bisa kuliah di luar negeri dengan uang beasiswa. Uangnya pasti banyak. Makanya bisa pulang. Kalau tidak ada uang mana bisa pulang. Pasti tunggu tahun depan lagi.”

Tidak sedikit yang salah paham, “rupanya anak abang ini ada yang TKW di China. Berapa lah gajinya sebulan? Sampai tega sekali ayahnya sakit tidak pulang. Kalau sudah begini menyesal pun tiada guna.”

Berbagai macam bisik-bisik tetangga keluar masuk telinga. Di saat begini, justru adik bungsuku mengingatkan untuk tetap tegar. Jangan terbawa pikiran dengan omongan-omongan yang aku dengar.

“Ayah bilang, kakak harus selesai kuliah. Bertahan di sana sedikit lagi. Jika kakak ingin Ayah bahagia selamanya. Kakak harus ingat, sisa-sisa waktu Ayah mengingat Kakak. Ayah bangga kepada Kakak. Jangan kecewakan Ayah, Kak,” tutur adikku sok dewasa.

Aku baru saja membuat keputusan untuk tidak kembali ke negeri tirai bambu. Aku ingin berhenti. Lelah di sana, sementara kepalaku penuh dengan beban.

Aku tidak punya uang untuk membeli tiket kembali ke Beijing. Harga tiket masih melangit. Di atas sepuluh juta. Itu pun dengan menumpang maskapai berbodi merah. Tidak termasuk bagasi. Rasa sungkan untuk meminta hakku hilang. Aku menghubungi orang-orang yang terlibat utang denganku. Ada yang berjanji memberikan, tapi tidak pernah menghubungi. Ketika aku menghubungi, mereka lenyap.

Seorang public figure yang pernah aku garap biografinya memintaku datang ke salah satu kedai kopi top di Banda Aceh. Dia mengatakan akan datang dan membawakan tiket pesawat bersama bayaran biografi. Tiket pesawat yang dia berikan itu di luar honor menulis biografinya. Bonus katanya. Harapanku cukup besar, aku datang ke kedai kopi yang dia kabari lewat telepon.


Menulis biografi adalah pekerjaan yang dibayar tinggi.
[Photo: Pexels]

Aku menunggu hingga jam sebelas malam. Orang yang aku tunggu tak kunjung datang. Aku mengiriminya SMS sekedar pemberitahuan. Dia tidak juga membalas. Telepon tidak diangkat. Apalagi datang ke tempat yang sudah dijanjikan. Setengah jam setelah aku sampai di rumah, aku menyadari sudah ditipu oleh tokoh dengan nama besar ini. Dia pemberi harapan palsu yang selama ini aku abaikan tanda-tandanya.

Esok paginya Mamak bertanya padaku, “ada berapa uang yang kamu punya untuk tiket pulang?”

“Aku tidak akan pulang lagi, Mak.”

“Kenapa? Kamu takut Mamak meninggal juga?” tanya Mamak. Aku diam saja. Mamak melanjutkan lagi, “Ayah sudah berjuang keras untuk memberangkatkanmu. Pulang dengan ijazah. Bukan dengan keputusan seperti ini.”

“Aku nggak punya uang, Mak. Tabunganku tidak cukup untuk tiket pulang.”

“Ayah meninggalkan uang untuk kamu.”

Aku terpaku. Bagaimana mungkin orang meninggal punya uang? Ayah meninggal di rumah sakit. Meskipun biaya operasi ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), tentu saja biaya obat-obatan di luar tanggungan tidak sedikit. Biaya hidup yang mereka butuhkan selama merawat ayah di rumah sakit juga tidak sedikit. Aku tidak berani bertanya apapun.

Seperti paham pikiranku, mamak memberi penjelasan, “rezeki Ayah cukup banyak, Fa. Banyak sumbangan dari orang-orang. Setelah empat puluh hari pun masih banyak sumbangan dan sedekah untuk ayah. Kalau uang ini mamak pakai untuk biaya hidup, mamak tidak perlu keluar dan bekerja di rumah bisa.”

Aku terkejut. Aku kalkulasikan pengeluaran dapur mamak yang tidak seberapa berdua dengan adik laki-lakiku itu. mataku membulat. Hatiku tergoda untuk rakus.


Wortel salah satu sayuran yang tersedia di dapur Mamak.
[Photo: Pexels]

“Semalam mamak bermimpi,” mamak melanjutkan. Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. “Ayah datang dan menyuruh Mamak bertanya berapa yang kamu butuhkan untuk tiket pulang ke Beijing. Uang yang ada disuruh berikan untuk kamu. Berapapun yang kamu butuhkan.”

Aku terdiam.

Dua hari lamanya aku memikirkan antara kembali ke Beijing atau berhenti. Ayah juga datang ke dalam mimpiku. Seperti sebuah perintah. Ayah berpesan agar aku kembali. Kekurangan soal uang bukan masalah, tetapi berani mengambil langkah dalam kekurangan yang paling penting.

“Bukan masalah duit, Fa. Do it!”

Sebelum aku pulang ke Beijing, pamanku datang. Dia membawa uang untuk menambah biaya tiket. Paman yang lain juga melakukan hal yang sama. Bahkan ada yang membelikan tiket one way  dari Banda Aceh ke Kuala Lumpur. Masalah tiket terselesaikan. Ayah benar. Masalahnya bukan duit, aku bisa tidak untuk do it.


Blogging adalah salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan.
[Photo: Pexels]

Kehidupanku di Beijing tidak langsung berubah. Biaya hidup meningkat, sementara mimpiku untuk menjadi Ibnu Batutah untuk ayah tidak yakin tercepai. Jarak tempuh kota Beijing yang luas dan jauh, biaya hidup yang tinggi. Gambaran kuliah di luar negeri bisa berfoya-foya hanya citra dari segelintir mahasiswa asing yang berkecukupan saja.

Tidak mudah pula bertemu dengan teman senasib. Minimal yang memahami kondisi kehidupan finansial sebagai mahasiswa beasiswa yang serba kekurangan. Beberapa teman merekomendasikan aku untuk mengajar di sekolah internasional. Mereka melakukan hal yang sama untuk menambah uang saku. Kendalaku ada dua. Aku Islam dan berjilbab, dan aku bukan ras kaukasian. Aku ditolak dengan alasan mereka butuh guru yang berambut pirang, bermata biru, dan tidak berkerudung. Kerudung akan membuat anak-anak di sana ketakutan. (B.E.R.S.A.M.B.U.N.G)


Baca Juga:

Posting Komentar

0 Komentar