Ibnu Batutah Buat Ayah

“Jadilah Ibnu Batutah Buat Ayah,” seorang lelaki tua di film Love Sparks in Korea berhasil meneteskan air mata di menit-menit pertama film ini tayang. Terlalu menyentuh buat saya. Secara tidak langsung, mengena sekali dengan kehidupan nyata yang saya arungi.

Ini adalah satu-satunya film adaptasi dari novel Asma Nadia yang saya sukai. Saya fans-nya novel dan cerpen Asma Nadia. Tapi bukan fans untuk film-nya. Ketika menonton Love Sparks in Korea juga tidak dengan niat kuat. Tetapi begitu menemukn feeling-nya, saya langsung suka.

[Photo: Pexels]


Film ini saya download dari YouTube dengan sisa kuota 4G di ponsel. Begitu mengaktifkan hotspot, langsung download. Malamnya saya nonton sambil mewek. Memang, sih… Setiap ada hal yang menyentuh di film, air mata saya akan selalu menetes dan berlanjut dengan tangis.

Ayah bukanlah lelaki dengan gelar hebat, apalagi lulusan luar negeri. Ia lelaki biasa, sederhana dan cerdas. Pengetahuan umumnya luas. Lebih banyak membaca buku dari yang saya lakukan. Buku-buku yang saya beli terlebih dulu ditamatkan oleh Ayah daripada saya. Saya pun mempunyai pembenaran sendiri ketika dikritik, “Saya membeli buku untuk ayah.”

Ayah tidak pernah menyuruh saya untuk melakukan traveling, ia hanya menceritakan pengalaman penjelajahannya dengan senang hati. Masa muda menyenangkan dan penuh arti. Itulah kesimpulan yang saya ambil.

Ketika mulai aktif di berbagai macam kegiatan, saya mulai keluar dari Takengon. Masuk dari satu tempat ke tempat lain. Selalu ada cerita yang saya tulis ketika masuk ke suatu tempat. cerita-cerita itu adalah lembar-lembar buku untuk Ayah, sebuah bukti bahwa saya sudah berjelajah.

Ayah mempunyai sebuah atlas tua. Masih berbahasa Belanda dan ejaan lama. Atlas itu sudah lama sekali. bahkan negara-negara masih dengan sebutan lama dan jumlah negara di dunia masih sedikit. Beberapa kota di Indonesia sudah dipalang dengan pensil.  Kota-kota itu sudah saya kunjungi beberapa tahun terakhir. Tidak banyak memang, tapi cukup berkesan. Bagi saya ataupun ayah.

Ketika saya menerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Beijing, ayah mengeluarkan peta tersebut dan membentang di hadapan saya. Ada palang pensil baru di kota Singapura, Batam dan Amoy (sekarang bernama Xiamen). Ayah menjelaskan pada saya tentang Amoy dan Xiamen. Singkatnya dulu Amoy dikuasai oleh orang barat, dan merekalah yangmemberi nama itu.

Ayah memberi palang pada kota Beijing dengan pensil. Tujuannya untuk menandai bahwa saya sudah (akan) ke sana. Padahal waktu itu nasib visa saya pun masih tidak jelas. Saya baru mendapatkan visa ke China seminggu menjelang keberangkatan.

Menjelang keberangkatan, saya menginap satu malam di rumah. Hanya untuk mengantar buku ‘Rantau 1 Muara’ karya A. Fuadi dan merasakan pelukan terakhir serta tetesan air mata ayah. Pelukan itu benar-benar menjadi terakhir buat saya. Karena setelah itu saya tidak pernah melihat ayah lagi. Bahkan jasad yang sudah dikafan pun tidak.

Saat ini, Ibnu Batutah ayah sudah kembali dari petualangannya mengenal dunia. mewakili ayah untuk berfoto dan menyentuh tembok China. Belum banyak ia berkelana, tetapi arti hidup yang ia temukan dalam perjalanan begitu dalam dan penuh arti. Ayah, andai engkau di sini, begitu banyak cerita yang anakmu ingin tuturkan…

Posting Komentar

0 Komentar