Pendakian Kedua: Antara Demam, Yaqin, dan Yakin (Part 2)

 Man itu lelaki yang usianya lebih tua dua dari saya, dia sedang melanjutkan pendidikan doktoral di fakultas yang berbeda. Pengalamannya internasionalnya lumayan. Dia pernah menjadi dosen di sebuah kampus swasta kecil di Bangkok. Menurut ceritanya, dia memiliki tiga orang kakak perempuan dan dua di antaranya sudah usia menikah tapi memilih single forever.

Man anak bungsu, sedangkan saya anak sulung. Saya pikir inilah alasan kami bisa cocok. Saya yang bersikap dewasa karena memiliki tiga orang adik, dia yang kekanakan karena dimanja tiga orang kakak. Faktor dibesarkan oleh keluarga yang dominan perempuan membuat Man lebih kemayu, bahkan banyak yang mengira dia itu seorang gay. Padahal tidak. Saya tahu dia masih normal meski agak feminim.

Pemuda dari Thailand sering dianggap gay karena gaya
berbicaramereka yang kemayu.
[Photo: Pexels]

Satu hal yang membuat saya kaget tentang Man, ternyata dia fobia ketinggian. Namun saya juga tidak menyangka setelah turun dari pendakian kedua dengan cable car, saya juga mendadak takut ketinggian. Kaki saya ngilu saat berada di tempat tinggi.

Yakin Usaha Sampai

Saya lupa pernah mendengar kalimat yakin usaha sampai di sebuah iklan, tapi lupa pernah mendengarnya dimana. Slogan ini pula yang membuat saya yakin akan baik-baik saja naik ke atas sana tanpa berpikir akan pingsan ataupun mendadak mati di atas tembok Cina sana. Tentu saja saya akan turun dengan selamat dan sehat-sehat.

Kami masih makan di tempat biasa, di salah satu restoran yang direservasi kampus untuk menikmati makan siang yang mewah. Meski mewah yang dimaksud itu seringkali tidak sesuai dengan lidah kami dari berbagai anak bangsa. Tentu saja, sebagai lidah Aceh yang lebih akrab dengan asam sunti dan rempah panas, aroma minyak wijen dari chinese food sama sekali tidak bersahabat dengan lidah saya.

Saya makan demi bertahan hidup dan menikmati pengalaman sebagai manusia yang terasing di dunia asing. Itu saja. Namun pengalaman kuliner yang saya dapat di tembok Cina sungguh berkesan.

Berada di meja yang tertulis muslim table ini sama sekali bukan tujuan utama saya. Maksudnya saya nggak bermaksud wisata kulineran di sini, jadi sasaran menu yang saya makan masih sama dengan kunjungan ke tembok Cinasebelumnya. Saya tetap menikmati gongbao jiding (ayam kungpaw) dan tumis buncis dengan cabe kering. Saya tidak meyentuh makanan lain yang menurut saya beraroma menusuk dan menyengat.

Usai makan siang yang sama saja nikmatnya itu, kami melanjutkan perjalanan dengan bus ke kampus. Saya duduk di bus berdampingan dengan Man. Di belakang kami Jhennya dan Antoine duduk bersama sambil melihat-lihat foto di kamera Man. Jhennya teman saya asal Rusia yang tergabung dalam no lonely club. Sementara Antoine berasal dari Switzerland berada di kelas lain.

Dalam beberapa trip, saya memperhatikan jarang sekali mahasiswa asing berbaur. Mereka akan memilih bergabung dengan teman senegara, sezona wilayah, atau sebenua. Anak-anak Asia Tenggara persendirian sering berkumpul jika ada trip seperti ini. Teman-teman sekelas juga akan berkumpul bersama ketika bergabung. Kecuali mereka benar-benar persendirian. Padahal tujuan trip adalah untuk mendekatkan seluruh mahasiswa agar berbaur seperti keluarga.

Tiba di asrama, saya langsung terkapar. Tidur karena lelah setelah membasuh diri dengan air hangat. Saya melewatkan shalat maghrib. Saya terbangun kembali tengah malam dengan kondisi badan segar. Pantas saja yisheng  (dokter) bilang untuk terus beraktivitas dan olahraga selama mengosumsi obat rasa kecoak itu. Ternyata khasiatnya memang sedahsyat itu.

My Yaqin is Return

Saya tidak membatalkan keberangkatan ke tembok China. Itu artinya yaqin (uang jaminan) saya juga tidak hangus. Saya bisa mengambil yaqin kembali dengan penuh tanpa pemotongan.

Uang seratus yuan yang saya ‘tabung’ di bangongshi (kantor) bisa menjadi hak milik tanpa drama. Uang itu langsung saya manfaatkan untuk makan pizza di I Do pizza dengan Man, Gaby, dan Helland bersama.


Pizza sebagai makanan penyelamat untuk warga asing yang tidak terbiasa dengan chinse food.
[Photo: Catscoming]

Kami bercerita perjalanan trip kami. Fobia yang diderita oleh Man menjadi bahan tertawaan saya. Sementara Gaby dan Helland menunjukkan sikap prihatin terhadap Man. Mereka berempati dengan apa yang dialami oleh Man selama di tembok Cina. Memang tidak mudah, tapi Helland menyarankan untuk menyembuhkan diri sendiri perlahan. Dia juga bercerita bahwa pacarnya memiliki masalah yang sama sebelumnya, kemudian dia membuat terapi ala dia demi menyembuhkan kekasihnya.

Gaby bercerita tentang liburan ‘panas’ mereka di Tianjin. Saya dan Man yang notabene orang Asia Tenggara yang masih tabu pada hal-hal begitu memilih diam sambil menunduk. Sibuk memainkan ponsel. Gaby dan Helland sibuk becerita dan berbagi pengalaman romantisme mereka bersama pacar.

Kami baru kembali bergabung dengan obrolan keduanya ketika Gaby bercerita agak sulit menjalin hubunan dengan kekasihnya yang berasal dari Malta. Mereka terbentur pada keyakinan. Gaby katolik yang punya komitmen tidak mungkin pindah agama menjadi Islam. Sementara kekasihnya asal Malta juga sama. Tidak mungkin pindah agama dari Islam ke agama lain. Kecuali mereka memilih hidup satu atap beda agama.

Gaby bertanya pada saya soal Islam. Gaby mengakui berat menjalani kehidupan sebagai Islam dengan gaya hidupnya yang bebas. Sementara kekasihnya tidak mau pindah agama.

“Bukankah kalian selama ini sudah hidup bebas tanpa berjalan di aturan agama? Aku rasa untuk hidup bersama kalian tidak perlu memikirkan agama, jika selama ini kalian sudah mengabaikannya,” celetukan Helland membuat kami bertiga langsung terdiam.

Jadi sejak obrolan dimulai, saya menempatkan masalah Gaby dari sudut pandang saya yang taat aturan dan menolak hidup bebas, apalagi free sex. Sementara Man menempatkan posisinya dalam aturan yang nggak jauh beda dengan saya. Dia menempatkan kekasih Gaby yang sedang berpikir bagaimana melanjutkan hubungan dengan Gaby karena agama.

Kami terlalu overthinking, hanya Helland yang benar-benar logis mencerna apa yang terjadi di antara Gaby dan pacarnya. Ini bukan soal siapa akan mengikuti siapa. Pernikahan bagian dari gaya hidup dan komitmen bersama yang akan dijalani oleh Gaby asal Ekuador dengan kekasih Malta-nya.

(T.A.M.A.T)

Posting Komentar

0 Komentar