Hello From the Other Side (2)

Hello, it's me!

Mungkin kita belum saling berkenalan. Meskipun ketika terjebak di sini kalian sudah membaca beberapa tulisan di sini. Ada yang berkaitan dengan dunia kampus, traveling, bahkan drama Korea. Ya, kita sama. Memiliki kegemaran yang sama. Tapi tanpa sebuah perkenalan, hubungan kita tidaklah seindah cerita drama yang meraup keuntungan jutaan dolar paman sam itu.

Perkenalkan!

Nama saya Ulfa Khairina. Menyelesaikan pendidikan Strata I di Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh. Sekarang lebih dikenal dengan Universitas Islam Negeri (UIN). Saya memilih jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) karena dipaksa. Sementara saya sangat bangga menjadi bagian dari anak teknik. Tidak tanggung-tanggung, jurusan Arsitektur.

Belajar jurnalistik itu menyenangkan.
[Photo: Ulfa Khairina]

Tidak semua yang buruk itu berakhir buruk. Karena paksaan itu pula saya menikmati berbagai pengalaman dalam hidup. Menjadi wartawan di berbagai media. Mulai dari cetak sampai elektronik. Bahkan kuliah di jurusan KPI yang katanya tidak keren ini sudah mengirim saya untuk melanjutkan Strata II di Communication University of China, Beijing. Saya patut berbangga hati, tidak mudah untuk jebol ke kampus dewa ini. Kampus komunikasi dan media yang menjadi kebanggaan orang China.

Paksaan kuliah di Komunikasi dan Penyiaran Islam menumbuhkan rasa cinta yang begitu dalam. Saya jatuh cinta pada dunia jurnalistik. Jurusan yang katanya hanya dipilih oleh orang-orang bodoh. Siapa yang akan kuliah di jurusan yang formasi untuk mendapatkan status PNS sangat langka ini? Hanya orang bodoh! Itu katanya. Namun saya nekat memilih jurusan Jurnalisme Internasional dan mendapat bonus jurusan New Media.

Saya merasa beruntung. Meskipun menjadi manusia dengan latar belakang pendidikan langka, saya juga ingin memberikan sesuatu yang lain untuk diri saya sendiri. Sesuatu yang berharga, berkelas, dan tidak dipandang sebelah mata oleh siapa pun. Kalian tahu? Menjadi perempuan di kalangan anak jurnalistik itu sangat istimewa.

Sebagian besar mahasiswa jurnalistik adalah lelaki. Mereka memiliki keahlian dalam bidang mengoperasikan kamera. Detil dan peka dalam melihat momen. Serta mereka juga sanggup bergadang sepanjang malam demi menyelesaikan proyek setiap mata pelajaran. 

Bagaimana dengan kami para perempuan? Dimana istimewanya?

Perempuan yang berkuliah di jurnalistik adalah mereka yang sadar dirinya istimewa. Kita tidak melewatkan malam dengan meraton nonton oppa Lee Min Ho bergincu pink. Kita menghabiskan waktu untuk menyelesaikan mengedit satu scene dari film para oppa itu agar enak ditonton.

Kita juga tidak perlu menghabiskan kuota untuk nonton vlog dari YouTuber favorit. Kita belajar menjadi favorit dan mendapatkan uang beli kuota dari konten yan kita ciptakan. Bahkan kita tidak perlu galau karena lagu yang kita request tidak kunjung diputar. Kita punya kendali atas lagu favorit yang ingin kita dengarkan dan didengarkan oleh orang lain.

Ada yang bilang anak jurnalistik hanya punya kekuatan praktek tanpa teori?

Kata siapa?

Kita juga dituntut untuk berkemampuan menganalisa dengan tajam. Karena sebuah berita tidak cukup hanya mendengar satu mulut berbicara. Analisa, analisa, dan analisa.

Belajar jurnalistik itu menyenangkan. Seperti yang sering kita tonton di film favorit kita.

Yuk, bersiap belajar jurnalistik semester ini.

Posting Komentar

0 Komentar