Mi, Ingatlah Hari Ini (Part 2)

 Seperti yang sudah diduga, dampak bermain ponsel untuk si abang memang banyak negatifnya. Persis seperti yang dilansir oleh The Asian Parents, si abang yang berusia empat tahun jadi malas tidur. Pikirannya ke ponsel terus. Pantang diberi sekali, dia juga kecanduan. Selain itu dia jadi lebih agresif setelah bermain ponsel lebih dari satu jam. Paling jelas dan bikin kesal kalau si abang mulai tantrum. Ini benar-benar dampak yang membuat saya kesal seharian.

Anak menjadi agresif ketika kecanduan ponsel.
[Photo: Pexels]

Belum kelar urusan dengan si abang dan pola tidurnya, suami mengajak makan ke Hana Cafe Jepang yang berlokasi sejauh 25 kilometer dari rumah. Tampaknya suami tidak pada suasana hati untuk keluar rumah di akhir pekan, tapi dia memaksakan diri karena terlanjur janji. Alhasil selama makan tidak ada yang menyenangkan.

Sepanjang perjalanan si abang ngantuk dan menolak tidur. Dia tantrum. Minta pulang ke luar kota. Dia tidak mau keluar dari mobil. Dampaknya panjang sekali. Dia menangis sampai maghrib. Setelah mandi, ganti pakaian, dan tidur. Saya sempat mencuci usai shalat maghrib. Saat menjemur pakaian, si abang dan adik malah bangun barengan. Suami kewalahan.

Cuaca Banda Aceh belakangan memang super panas, sampai-sampai suasana kamar seperti sauna. Kipas angin yang berputar-putar mengirimkan hawa panas, bukan menyejukkan. Saya meminta suami membawa si adik ke bawah karena kamar kami di lantai dua. Suami setuju dan menidurkan di ayun.

Si abang minta dibuatkan susu, tapi tidak mau tidur di kamar atas. Dia mau berbaring di depan TV sambil nonton Upin Ipin. Itu pun turunnya minta digendong dan nontonnya ditemani. Sedangkan kerjaan saya menumpuk. Saya sedang menikmati menjadi ibu, tapi begitu jam-jam ibadah sedang ketat di rumah begini saya galau juga.

Tangis menangis antara dua balita dan suami yang kewalahan. Di sini saya mendeteksi kalau ayahnya anak-anak mengalami baby blues. Setelah saya lakukan penelusuran, ternyata lelaki juga mengalami baby blues syndrome, lho. Pria mengalami baby blues syndrome karena rasa khawatir atas peran sebagai ayah. Dia mulai memiliki tanggung jawab baru dan merasa kehilangan kebebasan.

Saya yakin ini yang terjadi. Biasanya ayah anak-anak akan melewati akhir pekan dengan tidur dan menghabiskan waktu di layar ponsel. menonton film-film kesukaannya. Sedangkan saat anak-anak mulai tarik suara dia kehilangan waktu menontonnya. Apalagi jika saya mulai membuka mulut dengan kalimat, “tolong kerja samanya, dong,” atau “tolong adiknya diamankan dulu.”

Saat itulah petaka terjadi. Saat sedang mengayun anak, ayun terputus. Si adik bayi terbanting ke lantai semen. Kemudian gantungan kainnya jatuh, pernya ikutan jatuh. Tertimpa pas di atas kepala bayi. Saya tidak yakin apa yang menghantam pelipis kanan dekat mata si bayi. Dia menangis menjerit kesakitan sampai pucat. Saya pun ikut menangis. Takut sekali.

Suami? Tentu saja mengamuk dan emosinya meningkat puluhan kali. Sementara si abang menonton dengan tangis pelan sambil minum susu. Satu persatu orang di rumah mulai keluar dari kamar. Ibadah mereka terganggu. Saya menangis dan tidak tahu harus berbuat apa.

Di saat yang sama berbagai pikiran melintas dalam kepala. Saya mulai kalang kabut mendengar suara sahut menyahut. Musibah. Bayi menangis satu jam dan saya terus menggendong dengan posisi memeluk. Tidak mau dibaringkan. Mungkin badannya masih sakit dan terkejut.

Si abang kembali ke kamar dalam kondisi menangis. Ada saja yang menjadi masalahnya. Saya mengembalikan suasana hati kedua anak-anak dengan lelah. Begitu anak-anak tidur justru saya yang mewek. Ya, berat sekali peran seorang ibu. Namun hari ini saya seperti diberi panggilan.

Mi, ingatlah hari ini. Semua hal bisa terjadi sekalipun kamu mengurus kedua anak bersama suami. Harus ada yang mengalah. Harus ada yang menjadi pemadam kebakaran di hati yang mulai gersang.

Mi, ingatlah hari ini. Menjadi ibu tidak boleh mengeluh. Tidak boleh katakan capek. Tidak boleh menjadikan anak-anak sebagai pelampiasan.

-o0o-

Banda Aceh, 14 Mei 2022

Posting Komentar

0 Komentar